Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Makassar (BLA Makassar) -- Balai Litbang Agama Makassar kembali menggelar kegiatan Sarasehan Moderasi Beragama dalam bentuk Klinik MB (Moderasi Beragama) yang berlangsung pada Ahad, 27 Juli 2025 di Aula Balai Litbang Agama Makassar. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 13.00 WITA hingga selesai dan menghadirkan narasumber Alwiyah Nur Syarif, serta dimoderatori oleh Syarifah Ainun Jamilah.
Yang menjadi pembeda dalam kegiatan ini adalah hadirnya Komunitas Cadar Garis Lucu sebagai peserta. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari kalangan perempuan bercadar, tetapi juga ada yang beragama non-Islam, perempuan yang tak mengenakan jilbab hingga laki-laki. Keberagaman ini menjadi bukti nyata bahwa forum moderasi beragama bisa merangkul siapa saja, dari latar belakang manapun.
Melalui metode diskusi yang interaktif, para peserta diajak untuk menggali ulang pandangan mereka terhadap perbedaan. Narasumber menjelaskan bagaimana persepsi dan asumsi yang tidak disadari dapat memengaruhi cara berpikir seseorang terhadap orang lain. Klinik MB juga menekankan pentingnya tabayyun, serta pentingnya menyadari pengaruh media sosial terhadap pola pikir masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.
Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Saprillah yang turut hadir dalam sesi ini menjelaskan bahwa konflik sosial sering muncul karena pikiran negatif dan prasangka yang tidak dikaji ulang. Program Moderasi Beragama (MB) hadir sebagai pendekatan untuk mempererat hubungan antara individu, masyarakat, dan negara, sehingga tercipta kehidupan yang saling menghargai dan inklusif.
Dalam sesi diskusi, peserta mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari indikator keberhasilan moderasi beragama hingga peran media sosial dalam membentuk opini publik. Beberapa peserta juga menyuarakan keresahan tentang stigma terhadap moderasi beragama yang dianggap menjauhkan dari esensi agama. Diskusi tersebut membuka ruang pemahaman bahwa moderasi tidak mengubah ajaran agama, namun memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keseimbangan dalam kehidupan bersama.
Menariknya, Komunitas Cadar Garis Lucu yang menjadi bagian dari kegiatan ini, menunjukkan bahwa keterbukaan dan keramahan dapat berjalan seiring dengan identitas keagamaan. Mereka tampil sebagai komunitas yang mampu bergaul dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan nilai yang diyakini.
Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga berlangsung dalam suasana yang hangat dan terbuka. Meskipun jumlah pesertanya terbatas, diskusi tetap berjalan dengan semangat dan saling menghargai satu sama lain.
Melalui Klinik MB ini, Balai Litbang Agama Makassar berupaya menciptakan ruang aman untuk berbagi gagasan, bertanya, dan meruntuhkan sekat-sekat sosial yang membatasi interaksi antarumat beragama. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi langkah awal membangun masyarakat yang lebih toleran dan inklusif, dimulai dari hal-hal kecil namun berdampak besar: bertanya, memahami, dan mengakrabkan diri dengan perbedaan.
Leave a Comment